Dr. Fariz
(ffariz@telkomuniversity.ac.id)
Researcher and Lecturer
School of Economics and Business, Telkom University
Seorang manajer operasional di sebuah badan transportasi umum baru-baru ini berbagi kisah menarik. Saat permintaan penumpang berubah mendadak di pertengahan bulan, timnya masih harus berkutat dengan lembar kerja manual dan rapat tatap muka untuk mengubah jadwal bus. Di sisi lain, aplikasi transportasi daring (ride-hailing) mampu beradaptasi dalam hitungan menit.
Kisah ini menggambarkan kesenjangan nyata antara birokrasi transportasi konvensional dengan kelincahan perusahaan teknologi modern. Namun, penelitian terbaru membawa kabar baik: Indonesia bisa mengejar ketertinggalan ini dengan strategi yang tepat.
Konsep “modal intelektual” mungkin terdengar abstrak bagi masyarakat awam, namun dampaknya sangat nyata di lapangan. Bayangkan sebuah pul taksi di Jakarta. Tanpa data, pengemudi hanya mengandalkan intuisi untuk mencari penumpang. Sebagian menuju pusat kota yang macet, sebagian lain berputar-putar di area sepi. Akibatnya, bahan bakar terbuang, penumpang menunggu lama, dan pendapatan tidak optimal.
Bandingkan jika tersedia sistem yang menganalisis pola pergerakan warga. Sistem ini memberi tahu pengemudi, “Dalam 15 menit, permintaan akan melonjak di Stasiun Gambir.” Inilah modal intelektual bekerja: gabungan antara data (modal informasional), teknologi pemrosesan (modal struktural), dan keterampilan pengemudi (modal manusia).
Sayangnya, penelitian Telkom University menyoroti adanya “celah inovasi” di Indonesia. Organisasi transportasi kita kuat dalam administrasi dan prosedur (skor 3,8), namun lemah dalam penerapan teknologi baru (skor 2,4).
Mengapa ini terjadi? Pertama, kesalahan penentuan prioritas anggaran pascapandemi. Fokus bertahan hidup membuat investasi jangka panjang seperti pelatihan AI atau peremajaan sistem IT terabaikan. Kedua, ketidakcocokan keahlian (skills mismatch). Kita memiliki banyak insinyur sipil hebat, namun sangat sedikit arsitek data yang paham sistem transportasi. Ketiga, budaya birokrasi yang kaku dan menghindari risiko kegagalan, yang mematikan inisiatif inovasi dari bawah.
Belajar dari Keberhasilan Lokal
Kita tidak perlu melihat terlalu jauh ke luar negeri untuk mencari bukti keberhasilan transformasi modal intelektual. Transformasi PT Kereta Api Indonesia (KAI) adalah bukti empiris yang tak terbantahkan. Keberhasilan KAI mengubah wajah perkeretaapian nasional bukan semata karena pembelian gerbong baru (modal fisik), melainkan karena revolusi modal manusia dan struktural.
Perubahan budaya kerja dari birokratis menjadi melayani, serta adopsi aplikasi Access by KAI yang mendigitalkan seluruh proses tiket, membuktikan bahwa BUMN Indonesia mampu melakukan lompatan teknologi. Kuncinya terletak pada kemauan kepemimpinan untuk menanamkan pola pikir digital kepada ribuan staf lapangan, dari kondektur hingga teknisi rel.
Peluang inovasi lokal juga sangat terbuka lebar di sektor transportasi informal yang menjadi ciri khas Indonesia, seperti angkutan kota (angkot) dan ojek pangkalan. Alih-alih mematikan sektor ini, pendekatan modal intelektual justru dapat merangkulnya.
Bayangkan sebuah sistem sederhana buatan startup lokal yang memungkinkan sopir angkot di Malang atau Bogor mengetahui rute mana yang sedang padat penumpang tanpa perlu berebut di jalan. Beberapa inisiatif rintisan di daerah telah mencoba ini dalam skala kecil, membuktikan bahwa teknologi biaya rendah (low-cost) yang tepat guna—bukan teknologi impor yang rumit—adalah kunci memodernisasi transportasi rakyat tanpa menggusur mata pencaharian mereka.
Tantangan terbesar justru terletak pada integrasi antarmoda yang sering kali terhalang oleh ego sektoral. Di banyak kota Indonesia, data jadwal bus, kereta komuter, dan angkutan pengumpan (feeder) tersimpan dalam silo data yang terpisah antarinstansi.
Membuka dan menyatukan data ini dalam satu platform nasional—sebuah konsep National Mobility Data—merupakan langkah revolusioner yang biayanya jauh lebih murah dibandingkan membangun jalan tol baru. Dampak efisiensinya pun dapat dirasakan seketika oleh jutaan pelaju (commuter) setiap hari. Inilah esensi mendayagunakan modal intelektual: bekerja lebih cerdas dengan sumber daya data yang sudah kita miliki.
Solusi: Ekosistem Inovasi Lokal
Indonesia tidak harus selalu membeli teknologi mahal dari vendor asing. Solusinya adalah membangun ekosistem inovasi lokal. Pemerintah dapat membangun sentra inovasi (innovation hubs) di kota-kota besar, tempat operator transportasi bertemu dengan perusahaan rintisan (startup) lokal dan akademisi. Operator menyampaikan masalah, startup menawarkan solusi teknologi, dan kampus menyediakan riset.
Model kolaborasi seperti ini jauh lebih murah dan relevan dengan konteks lokal dibandingkan membeli sistem jadi dari luar negeri.
Selain itu, reformasi budaya kerja mutlak diperlukan. Pimpinan lembaga transportasi harus berani memberikan ruang bagi eksperimen. Jika sebuah proyek percontohan gagal, kegagalan tersebut harus dipandang sebagai pembelajaran, bukan aib administrasi.
Jika langkah-langkah ini diambil, dalam tiga hingga lima tahun ke depan Indonesia berpeluang memiliki transportasi publik yang tidak hanya murah, tetapi juga cerdas, tepat waktu, dan manusiawi. Indonesia memiliki talenta dan data yang cukup—yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian untuk mengubah cara kerja.


