BONE, expressimedia.com – Empat inovasi pertanian dalam Program Mannennungeng, yakni Uwai Tuo, Pabbura, Warani, dan Garisi’, menjadi bagian dari capaian yang dipaparkan dalam Lokakarya Hasil PPK Ormawa UKM KPI Universitas Hasanuddin di Baruga La Tea Ri Duni, Kompleks Rumah Jabatan Bupati Bone, Senin (28/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi penutup rangkaian pelaksanaan Program Mannennungeng yang telah berjalan sejak Juni di Desa Kajaolaliddong. Lokakarya dirangkaikan dengan agenda Gau’ Maraja 2026, Passompe Mattana Bone, serta dihadiri Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M., jajaran kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), mitra program, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan ratusan Passompe (perantau) Bone.
Sejumlah mitra program dari instansi vertikal pemerintah dan BUMN turut hadir, termasuk Badan Pusat Statistik (BPS) dan Perum Bulog. Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan pemerintah, masyarakat, mahasiswa, mitra, dan berbagai pemangku kepentingan dalam melihat hasil pelaksanaan Program Mannennungeng sekaligus membahas keberlanjutan program.
Salah satu agenda penting dalam lokakarya adalah penyerahan Policy Brief kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Bone. Rekomendasi tersebut disusun berdasarkan pelaksanaan program dan ditujukan sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam pengembangan kebijakan pertanian di Kabupaten Bone.
Di tingkat masyarakat, keberlanjutan program ditandai dengan penandatanganan Berita Acara Serah Terima (BAST) antara Tim Pelaksana PPK Ormawa UKM KPI Unhas dengan Gapoktan Sipurio Sipurennu dan P4S Lamellong. Melalui BAST tersebut, perangkat teknologi, modul pelatihan, dan kurikulum P4S diserahkan kepada kelompok sasaran untuk dikelola secara berkelanjutan.
Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M. , dalam arahannya turut mengangkat peran Passompe dalam pembangunan daerah. Ia menilai para perantau memiliki ruang untuk berkontribusi melalui investasi, transfer pengetahuan, maupun pemberdayaan masyarakat.
“Para Passompe adalah duta-duta Bone di perantauan. Kami berharap mereka tidak hanya sukses di tanah rantau, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan perantau adalah kunci percepatan pembangunan di Kabupaten Bone,” ujarnya.
Semangat tersebut kemudian dikaitkan dengan filosofi Bugis “Lao Sapa Deceng, Lesu Mappadeceng”, yang bermakna pergi mencari kebaikan dan pulang berbuat kebaikan. Melalui Program Mannennungeng, mahasiswa UKM KPI Unhas membawa pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama menempuh pendidikan di Kota Makassar untuk diterapkan bersama masyarakat Desa Kajaolaliddong.
Dosen Pendamping Program Mannennungeng, Muh. Adnan Kasogi, S.Sos., M.Si. , mengatakan keberlanjutan menjadi bagian penting yang perlu dijaga setelah program berakhir.
“Program Mannennungeng bukanlah kerja satu pihak saja. Ini adalah hasil gotong royong antara mahasiswa, masyarakat, pemerintah daerah, instansi vertikal, dan seluruh pemangku kepentingan. Kami bersyukur karena proses pendampingan yang kami lakukan sejak awal telah membuahkan hasil nyata, tidak hanya dalam bentuk teknologi, tetapi juga dalam penguatan kelembagaan dan kapasitas petani. Namun, lokakarya ini bukanlah akhir. Justru di sinilah ujian sesungguhnya dimulai—yaitu memastikan bahwa apa yang telah kita bangun bersama terus hidup dan berkembang. Kami dari Universitas Hasanuddin akan terus hadir mendampingi, meskipun dengan peran yang semakin kecil, karena tujuan akhir kita adalah kemandirian masyarakat,” ujarnya.
Tokoh adat Bone, Andi Irwansyah, S.Sos., M.M. , menyampaikan bahwa program tersebut memiliki keterkaitan dengan nilai budaya masyarakat Bone.
“Sebagai bagian dari masyarakat Bone yang mencintai tanah leluhurnya, kami sangat mengapresiasi apa yang telah dilakukan adik-adik mahasiswa Universitas Hasanuddin. Program Mannennungeng telah mengingatkan kami bahwa pertanian bukan hanya soal bercocok tanam, tetapi juga soal menjaga warisan dan menjaga generasi. Filosofi Mannennungeng yang berarti berkelanjutan sejalan dengan nilai-nilai adat dan budaya kami yang selalu menjunjung tinggi keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Kami berharap semangat ini terus dijaga, tidak hanya di Desa Kajaolaliddong, tetapi juga menyebar ke seluruh penjuru Bone. Kami sebagai tokoh adat siap bersinergi untuk memastikan warisan ini tetap hidup,” ujarnya.
Ketua Umum UKM KPI Unhas, Aydil Fitra Mulya, menilai lokakarya menjadi bagian dari proses lanjutan setelah pelaksanaan program di lapangan.
“Lokakarya ini bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang. Policy brief yang kami serahkan hari ini adalah hasil dari kerja keras bersama antara mahasiswa, masyarakat, dan pemerintah daerah. Kami berharap rekomendasi ini dapat menjadi acuan bagi kebijakan pertanian di Kabupaten Bone. Terima kasih kepada Bapak Bupati, seluruh OPD, instansi vertikal, tokoh masyarakat, dan tentu saja warga Desa Kajaolaliddong yang telah menjadi bagian dari perjalanan ini,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Tim PPK Ormawa UKM KPI Unhas 2026, Fadel Muhammad S. , menegaskan bahwa penyerahan hasil program kepada masyarakat menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian kelompok sasaran.
“Hari ini kami resmi menyerahkan seluruh hasil program, termasuk perangkat teknologi, modul pelatihan, dan kurikulum P4S, kepada Gapoktan Sipurio Sipurennu dan P4S Lamellong. BAST ini bukan sekadar dokumen, tetapi simbol kepercayaan bahwa masyarakat mampu mengelola dan mengembangkan program ini secara mandiri. Kami akan terus mendampingi hingga mereka benar-benar mandiri,” ujarnya.
Berdasarkan hasil yang dipaparkan dalam lokakarya, Program Mannennungeng turut mencatat peningkatan produktivitas padi dari 3 ton menjadi 5,3 ton per hektare. Program ini juga mencatat efisiensi penggunaan air hingga 25 persen dan pengurangan penggunaan pupuk kimia hingga 50 persen.
Capaian tersebut diperoleh melalui penerapan Uwai Tuo, Pabbura, Warani, dan Garisi’ yang diintegrasikan dalam pendekatan pertanian cerdas dan berkelanjutan. Tim Mannennungeng berharap pengalaman pelaksanaan program di Desa Kajaolaliddong dapat menjadi pembelajaran untuk pengembangan pertanian cerdas di wilayah lain sekaligus mendukung upaya mewujudkan swasembada pangan yang berkelanjutan di Indonesia.


